Sabtu, 14 Juli 2012


PERNAK-PERNIK PENDIDIKAN  1

1.    a. Komite Sekolah

 Seiring dengan berubahnya system pendidikan yang sentralisasi ke desentralisasi. Tentu ada sejumlah agenda besar yang harus dihadapi bersama antara pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) di daerah. Para stakeholders inilah bertanggungjawab dalam memajukan sekolah. Siapa stakeholders tersebut tak lain adalah Pemerintah Daerah, Dinas terkait, Masyarakat setempat, dan partisipasi Orang Tua siswa.

Implementasi di lapangan agar terlaksana secara sinergis antara pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders), untuk memenuhi kebutuhan dan mengakomodasi harapan yang terjadi dalam pendidikan. Maka perlu membentuk suatu wadah atau lembaga untuk menampung dan menyalurkannya. Wadah tersebut berfungsi sebagai forum di mana representasi para stakeholders sekolah terwakili secara profoposional. Lembaga tersebut bernama Komite sekolah.

Komite Sekolah yang telah dibentuk itu sifatnya mandiri, non politis, dan non profit, yang pada waktu pembentukannya dipilih melalui musyawarah secara demokratis. Unsur-unsurnya terdiri dari orang tua siswa, wakil siswa, wakil guru-guru, tokoh masyarakat setempat. Memiliki tujuan untuk membentuk suatu organisasi dalam masyarakat yang mempunyai komitmen dan loyalitas serta kepedulian terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Selain itu secara khusus mempunyai tujuan sebagai berikut :

1.    Mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan oprasional dan program pendidikan di satuan pendidikan.

2.    Meningkatkan tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan.

3.    Menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan.

Komite Sekolah yang dibentuk di setiap tempat dan wilayah dapat dikembangkan secara khas dan berakar dari budaya, demografis, ekologis serta nilai kesepakatan, juga kepercayaan yang dibangun sesuai potensi masyarakat setempat. Oleh karena itu Komite Sekolah yang dibangun harus merupakan pengembangan kekayaan filosofis masyarakat kolektif.

Peranan Komite Sekolah sebagai mitra sekolah,tentu saja dalam perjalanan waktunya harus senantiasa memberikan semangat dan dorongan terhadap penyelenggaraan pendidikan, agar terbangun kesadaran di setiap sendi yang ada di kelembagaan itu sendiri, demi tercapainya tujuan Pendidikan Nasional Indonesia seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang baik UUD 1945 juga UU Pendidikan Indonesia. Komite Sekolah seyogyanya adalah komite yang memiliki tingkat kepedulian tinggi terhadap masalah-masalah  kebutuhan pendidikan, memiliki wawasan yang  dinamis, proaktif, dan berkualitas, serta menjunjung luhur nilai-nilai kejujuran.

b. Pengawasan

Salah satu fungsi kemanagemenan modern dalam pengelolaan organisasi adalah pengawasan yang bertujuan untuk membina pengelolaan organisasi atau lembaga tersebut. Hal itu berlaku pula dalam dunia pendidikan, di mana peranan fungsi pengawasan merupakan satu hal penting demi terjadinya keseimbangan antara fungsi-fungsi lainnya secara harmonis dan sinergis. Dengan dioftimalkannya fungsi pengawasan akan tercipta sebuah transparansi yang kredibel di semua lini, juga sebagai feed back terhadap keseluruhan program yang dijalankan.

Yang berperanan dalam fungsi pengawasan di sekolah adalah sebagai berikut :

1.    Kepala Sekolah sebagai pucuk pimpinan

2.    Pengawas yang ditugaskan secara khusus oleh dinas terkait

3.    Pengawas mata pelajaran tingakat satuan pendidikan SMP dan SMA

4.    Komite Sekolah

5.    Penilik untuk pendidikan luar sekolah


2.          a.  Intrakurikuler 

       Yang dimaksud dengan intrakurikuler adalah pelaksanaan pembelajaran  pada jam pelajaran efektif, di mana keberlangsungan kegiatannya mengacu kepada kalender pendididkan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam hal ini adalah Departemen Pendidikan Nasional dan Kebudayaan. Secara khususnya intrakurikuler itu adalah guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas berdasarkan jumlah jam jam pelajaran dan mata pelajaran yang diampunya, yang telah diatur oleh PKS Kurikulum pada masing-masing satuan pendidikan. Dalam artifisialnya guru melaksanakan RPP yang telah dibuat dan disusun pada awal tahun ajaran atau juga dapat menggunakan RPP tahun lalu yang telah mengalami perbaikan dan penyempurnaan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.

b.  Ekstrakurikuler 

     Ekstrakurikuler adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa di lingkungan sekolah yang bertujuan mengakomodasi dan menyalurkan potensi, bakat, minat dan hobi.  Program kegiatan ekstrakurikuler penting sekali karena  berkaitan dengan pengembangan diri anak didik. Dengan sejumlah pilihan yang ditawarkan pada program ekstrakurikuler memberikan keleluasaan pada diri anak didik untuk mengekspresikan dan menggali potensi diri, seiring dengan factor psikologis dan juga sosiologis, dengan adanya kegiatan ekstrakurikuler akan menimbulkan rasa percaya diri anak didik karena tidak sedikit dari mereka yang mengalami kesulitan belajar di kelas. Namun karena memiliki potensi di bidang lain dapat teraktualisasikan pada program tersebut. Banyak siswa yang tidak begitu berhasil pada bidang akademis, namun justru mempersembanhkan sejumlah prestasi melalui kegiatan ekstrakurikuler. Contohnya banyak anak didik berprestasi di bidang olah raga atau mengantongi sejumlah kejuaraan di bidang seni. Tentu saja Guru atau pendidik harus memahami dan menghargai potensi dan karakteristik anak didiknya. Guru jangan menjustifikasi anak didik itu bodoh karena mendapatkan nilai matematika di bawah KKM. Realisasi di lapangan berdasarkan pengalaman dan fakta yang terjadi di lapangan, dahulunya siswa tersebut sewaktu bersekolah mendapatkan nilai akademisnya kurang, namun ternyata di masa depannya berhasil menjadi pengusaha sukses. Dengan bahasa lain siswa tersebut memiliki bakat di bidang entreprenership, sehingga dia sukses menjadi pengusaha. 

Sekedar Illustrasi

Seorang guru mengajar di kelas binatang yang heterogen, ada ikan, burung, dan kera. Dalam hal ini guru harus memainkan peranannya sebagai guru  profesional, yang dapat menghargai kelebihan dan kekurangan dari masing-masing muridnya. Artinya guru tersebut tidak mungkin mengajarkan terbang kepada ikan dan  kera, juga sebaliknya tidak dapat mengajarkan naik/memanjat kepada ikan dan burung, kecuali guru tersebut mempunyai strategi dan pendekatan tertentu yang dianggap tepat dalam membelajarkan ketiga murid binatangnya itu.

Dari cerita di atas dapat ditarik benang merahnya, bahwa guru atau pendidik harus bijaksana dalam menjustifikasi anak didiknya. Gambaran seseorang berprestasi tidak melulu ditayangkan dengan tampilan angka-angka secara kuantitas. 

c. Co kurikuler

    Co kurikuler adalah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di luar lingkungan sekolah namun masih berkaitan dengan akademis. Kegiatan ko kurikuler merupakan serangkaian usaha dalam pemerkayaan pelajaran. Kegiatan ini dilakukan di luar jam pelajaran yang ditetapkan di dalam struktur program, dan dimaksudkan agar siswa dapat lebih mendalam dan memahami apa yang telah dipelajar dalam kegiatan intrakurikuler. Kegiatan ko kurikuler dapat berupa penugasan-penugasan. Pekerjaan rumah yang menunjang kegiatan intrakurikuler.

     Untuk pelaksanaan kegiatan ko kurikuler ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

1.    Harus jelas hubungan antara pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang diajarkan dengan tugas yang diberikan.

2.    Tugas yang diberikan tidak menjadi beban yang berlebihan bagi siswa baik fisik maupun psikologis.

3.    Pengadministrasian tugas harus tertib dan diusahakan menjadi referensi perpustakaan karya siswa.

4.    Penilaian tugas harus menjadi bahan pertimbangan untuk penilaian selanjutnya, misalnya untuk penilaian rapor dan ujian akhir.

3.      Tentang Pendidikan Karakter 

          Isu trend saat ini mengenai pendidikan berkarakter atau juga diejawantahkan menjadi KTSP berkarakter, tengah mengalami booming ditandai dengan adanya pelatihan-pelatihan, workshop-workshop, bahkan ada yang sampai didanai kegiatannya melalui block grant.

                  Sebenarnya sejak disyahkannya UUD 1945 Yang di dalamnya syarat dengan pembangunan manusia Indonesia berkarakter, merunut kepada pernyataan ideologi Sukarno ( Presiden pertama Indonesia) “Nation character building”. Mengandung makna tentang pendidikan berkarakter juga, masalahnya terletak pada tersirat dan tersurat. Kalau pada waktu-waktu lalu pendidikan karakter tersebut terintegrasi dalam kurikulum secara tersirat, tetapi untuk sekarang pendidikan berkarakter tersebut harus tersurat, di mana di dalam silabus dicantumkan dengan kolom tersendiri sesuai dengan  indicator yang hendak dicapai oleh siswa.

              Menurut versi pemerintah, pendidikan berkarakter diwujudkan ke dalam 18 point kata oprasional. Kalau berbicara tentang karakter sebetulnya tentu tidak terbatas kepada 18 point saja. Karena tidak menutup kemungkinan masih banyak karakter-karakter lain di luar yang 18 point tersebut. Sepanjang nilai-nilai dan pranata-pranata kehidupan yang terdapat di masyarakat, kalau dalam hal itu merupakan dan membentuk karakter manusia yang positif, bukankah menjadi entri point dalam membangun karakter manusia Indonesia yang madani?

         Dikaitkan dengan setiap sekolah, bahwa sekolah itu unik, mengapa? Karena sekolah merupakan satu kesatuan hidup sekelompok manusia yang saling berinteraksi. Dalam bahasa lainnya dapat dikatakan sebagai miniature sebuah masyarakat (komunitas). Untuk itu sebagai sebuah komunitas atau masyarakat dengan anggota yang saling berinteraksi dengan berbagai latar belakang, maka bangunan budaya dalam sekolah tersebut sangat berpengaruh terhadap ketercapaian tujuan dan misi sekolah. Dengan demikian setiap sekolah merupakan organisasi social yang unik dan memiliki budaya sendiri. Keberhasilan sebuah lembaga pendidikan bergantung pada keberadaan budaya tersebut. Hal ini semakin mengukuhkan pandangan bahwa setiap sekolah memiliki budaya sendiri-sendiri.


4.   Opini tentang Guru Profesional  

a.    Rekrutmen Guru

Beberapa hal terkait dengan rekrutmen guru pada saat ini adalah :

1.    Dedikasi dan niat pengabdian calon guru.

2.    Ketidakmerataan penempatan guru PNS di daerah-daerah.

3.    Ketersediaan guru-guru di daerah terpencil, tertinggal, atau bahkan terdepan.

4.    Latar belakang pendidikan guru dengan mata pelajaran yang diampunya.

5.    Keberadaan guru sukwan dan honorer.

6.    Pentahapan dalam mempersiapkan calon guru.

7.    Pelatihan-pelatihan dalam rangka meningkatkan profesionalitas guru.

8.    Kompetensi wawasan dan keterampilan yang dimiliki calon guru.

9.    Penumpukan  penerimaan calon guru dengan mata pelajaran tertentu.

10. Saat ini seleksi untuk calon guru hanya sebatas administrasi.

    Permasalahan di atas, tidak menutup kemungkinan dapat dijadikan prasyarat terhadap rekrutmen guru berkaitan dengan saat sekarang, di mana guru profesional sangat dibutuhkan, untuk penjaminan mutu dan peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.
    Kalau kita mau studi banding tentang bagaimana prosedur dalam tahapan rekrutmen calon guru untuk guru professional, seperti yang terjadi di negara lain. Persoalan rekrutmen guru mengalami beberapa tahapan dan diuji secara ketat, hal ini didasarkan bahwa pekerjaan guru memerlukan persiapan dan kajian matang. Karena yang dihadapi guru bukan bangunan struktur benda fisik, melainkan mahluk hidup yang bernama manusia, yang tentu saja manusia dengan berbagai karakter dan berbagai tingkat intelegensi.
    Mengkaji illustrasi di atas, menurut hemat saya perlu adanya suatu pola yang standar di daerah di seluruh Indonesia untuk dijadikan prosedur dalam merekrut calon-calon guru yang profesional dan handal. Calon guru selain memenuhi 4 kompetensi yang didapat dari pengalaman akademis maupun non akademis, penting adanya bakti pengabdian sebagai tahapan pemula terhadap calon guru tersebut. Di dalam masa pengabdian inilah dapat dikembangkan sistem penilaian yang sifatnya apresiatif dan kritis. Penilaian tersebut memerlukan suatu pengawasan yang transparan serta menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Penilaian tersebut dapat diejawantahkan ke dalam antara lain :
1.    Skala sikap

2.    Kompetensi wawasan

3.    Keterampilan dalam penggunaan metode pembelajaran

4.    Kreatifitas dan aktualisasi diri.

Menurut Baedhowi, banyaknya guru yang belum profesional disebabkan rekrutmen yang masih amburadul. Dalam proses rekrutmen guru, semestinya diadakan tes kemampuan akademik, bakat mengajar, dan tes kemampuan mengajar (praktik), bukan hanya tes teori," Sayangnya, itu masih jarang dilakukan," ujarnya. "Karena itu, banyak guru yang belum berkompeten."
Saat ini, kata dia, rekrutmen guru sudah tidak dilakukan oleh dinas pendidikan, tapi Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Guru dianggap sebagai pegawai biasa, tidak seperti mengetes guru. Masalahnya sekarang, pemda punya komitmen terhadap guru atau tidak?
Seorang guru profesional, jelas Baedhowi, harus menguasai ilmu pengetahuan (knowledge) sesuai bidang keilmuannya, metodologi, atau kemampuan mengajar, kesadaran mengembangkan diri (good profesional ati-tude), dan mempunyai keahlian memilih alat dan metode yang cocok untuk mengajar. "Guru juga diharapkan menguasai teknologi, tidak ketinggalan dari muridnya, menguasai kurikulum, dan jadi contoh bagi muridnya," tuturnya.
Baedowi mengatakan, sebenarnya setiap pelatihan guru selama ini semua kriteria dan metode pengajaran sudah sering dibahas. Kendalanya, materi pelatihan yang disampaikan lebih banyak teori.
Dia menilai, konsep pelatihan sudah bagus jika diimplementasikan dengan baik. Melalui pelatihan, guna harus memecahkan permasalahan. Tapi masalahnya, guru merasa tidak punya masalah. "Ini tantangan kita."
Menurut dia, guru harus mengubah paradigma, bukan teaching, tapi learning. Untuk itu, komitmen menjadi penting. Kata dia, "Kalau guru punya komitmen, masalah ini selesai."
Persoalan lain adalah volume guru yang besar. Dia mengungkapkan, jumlah guru tidak perlu ditambah kecuali untuk guru yang pensiun. Yang diperlukanadalah peningkatan mutu serta peran pemda dan kepala sekolah untuk memantau kinerja guru. "Kami mulai melakukan perbaikan sistem pelatihan dan pendistribusian guru karena selama ini kepala sekolah juga tidak peduli dengan kinerja guru," ungkapnya.
                                  (Replubika, 23 Desember 2010)

5.         FAKTOR GURU
Berikut ini merupakan phenomena yang berkaitan dengan implementasi yang terjadi di lapangan, terutama di daerah-daerah :
1.    Kurang proaktif terhadap perkembangan perubahan,  menyangkut pola pikir dari sumber daya manusianya. Yang dikedepankan adalah reaktif dan kecendrungan menjadi afatis. Selama karakter ini tidak ada usaha untuk berubah ke arah perbaikan,  mustahil ada perubahan yang signifikan. Memang ada sebahagian yang tentu tidak demikian, namun apabila keadaan yang sedikit ini, tidak dijadikan pendobrak bagi yang lainnya, tentu akan sulit mengejar ketertinggalan. Sementara   kemajuan jaman yang saat ini menjadi lisensi Negara-negara maju kian melesat menancapkan kuku-kuku cengkraman ke segala penjuru. Bila tidak diimbangi dengan kemampuan untuk menangkap phenomena tersebut selamanya kita tentu berada dalam kegamangan terhadap perubahan.  Perubahan yang dimaksud adalah perubahan positif terwujudnya sumber manusia Indonesia yang mampu mengolah dan mengelola Negara dan bangsanya, tanpa meninggalkan  kultur budaya bangsa yang telah menorehkan kebaikan bagi masyarakatnya pada jamannya. 

2.    Budaya baca masyarakat Indonesia termasuk  para guru dan murid masih rendah ini terbukti dari survey yang baru-baru ini dilaksanakan oleh UNESCO, hasil studinya menunjukkan dari 39 negara, minat baca di Indonesia menduduki posisi ke 38, posisi terendah di antara negara-negara ASEAN.
3.    Akibat dari kurang baca di kalangan guru, menjadikan kurang kreatif dalam mengeksplor bahan pembelajaran, metode pembelajaran, pendekatan pembelajaran, model-model pembelajaran. Guru sudah cukup menggunakan sumber bahan dari satu buku, jarang sekali melakukan analisis terhadap beberapa buku. Apalagi menggali bahan belajar dari sumber-sumber selain buku teks yang sudah ada.
4.    Pembelajaran baru pada tahap pengajaran cenderung teoritis. Guru yang professional adalah guru yang dapat memberikan inspirasi sehingga siswanya terbangun kesadaran bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan dirinya.
5.    Terjadinya lintas professional melalui PLPG dalam kurun waktu yang singkat  terhadap guru yang berbeda dengan latar belakang pendidikan sebelumnya. Inilah problem mengenai latar belakang pendidikan guru dengan mata peljaran yang diampunya dan penumpukan penerimaan calon guru dengan mata pelajaran tertentu. Bukan menafikan toh manusia dapat belajar berkelanjutan, hanya saja dampaknya paling tidak apakah perubahan secara cepat akan terwujud tentang kualitas pendidikan Indonesia saat ini?  Dan satu hal lagi dari permasalahan tersebut di atas, yaitu adanya perampasan hak mereka yang benar-benar sesuai dengan latar belakang pendidikannya, tiba-tiba diserobot oleh mereka yang notabene jelas-jelas tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya hanya karena harus tersertifikasi. Tidak menutup kemungkinan permasalahan ini dapat masuk ke dalam pola rekrutmen guru di masa depan.
                                                                                               (by nimasgaluh)


TINA KAHIRUPAN

LALANGSE
(ku nimasgaluh)
 
Pajar waktu  mere omber,
ngaguar neangan jalan,
lumangsung sapoe jeput,
pikeun nembongkeun kareueus,
ka nu karek nembongan,
ilahar kaagul datang,
datang  na tangkeupan,
atuh,  angin eureun teu laju,
kapegung  ku  kabingung,
kacandet …
ampeg  kaheneg  ngulibek  jero  dada,
kolesed  kahempikan  ku sawangan
 

PANSUS
(ku nimasgaluh, 2011)
 
Turun tina hasil gunem catur,
jadi bewara nu kacapangan,
sanajan samar-samar jadi caang ngempray,
meunang ngaguliksek disiaran,
wakil rakyat tigin moro bebeneran,
sangkan  mawa  hasil  nu  nyugemakeun,
tilu babak buka layar,
pating gorohel nu ngarempag aturan,
dikandangan,
sugan sadar atawa tambah buringas ?
manusa, manusa ngarengkak boga akal.

NGARAKAL
(ku nimasgaluh, Desember 2011)
 
Hujan hujanna  mah, na aya ku bayeungyang,
angin ngahaliwir  kesang ngucur,
suku disanghunjarkeun angger teu genah,
ngarenghap napas jero,
gening bodo kasima ku nu ngarakal,
nyalindung kana papagon, cenah...
tempo hasilna tuh reugeujeug,sugan,
nu baroga pamangkas ngabalieur,
teu inget sumpah jabatan,
leueur palid na jalantah,
kaheneg ditalikung sihung papayung.
 

GEURA
(ku nimasgaluh, November 2011)
 
Sora murudul turun  patali marga,
wiwitan nyiwit pupuhu,
seah, lumungsur ti kaprabonan,
saha nu bisa ngajagaan?
mahal, teuing beungeut badakeun,
na jeroeun tasma mata simeuteun,
bisa keneh seuri.
 

SIKI NANGKA
(ku nimasgaluh,Mei 2009)
 
Nagari ngageuri
Geuning bet kamalinaan
Urang ulin ka mumunggang paul
Teu katingali ka mana nya mulang?
Pating cakakak nu galumbira
Nyugemakeun lampah masagi na kadali emosi
Naha teu inget yen poe isuk aya keneh nu ngarengkenek
Makihikeun siki nangka sasiki? 
                                                         

NAPAKURAN DIRI
(ku nimasgaluh, Februari 2010)
 
Basa raga dikurung kesang nu luut-leet,
Getih karasa naek minuhan raga,
Paroman beureum,
Nyurungkuy nyaksrak muringkak luareun kulit,
Napas kerep rumenghap,
Nguliat kulapes ngarumpuyuk,
Geuning teu daya  teu upaya              



LEMBUR SINGKUR
(ku nimasgaluh, Februari 2010)
Warna koneng ngaplak ngampar
Kolecer katebak angin ngawirahma, sorana ngagalindeng
Tingarendag tali nu butbet di pasawahan
Keprak keprak kokoprak ngeprakan
Burudul bondol haliber
Diseungseurikeun bebegig, dudukuy toklok
Rarakaan nu warna koneng dihias endog jeung sabrang
Haseup ngelun muput nyamu jeung menyan
Teu lila etem ngarigel surti mipit sri pohaci nu gareulis
Oeeeeeeeeeeeeee  oeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
Sora tarompet jarami lir ngomando
Sangkan gawe tereh kempol 

KALANGENAN
(ku nimasgaluh, April 2008)

Mangsa hujan baheula mah dipapag,
Ku parentulna supa, supa kotok, supa bulan,
Supa rampak, kalan-kalan supa kidang,
Aya deui supa suung geus lir supa pare mah,
Matak resep mapay-mapay pakebonan,
Mulang-mulang wanci asar bari rebo ku tiiran supa
                     Baranang bentang dipasieup cahaya bulan              
                     Barudak ear-earan samulangna ti tajug
                     Kolotna nyerangkeun tina golodog
                     Nempo barudak arulin
                     Aya nu babadean, uucingan, ucing kalangkang, jeung gobag
                     Mun cape  ngariung ngadalahar suuk, seupan hui, ganyong,
                     Sampeu boh taleus, nginumna didorong ku bajigur
                     Waas nya? 

NYAWANG  
                                                                                     
Pameunteu neuleuman na jero hate
Awor rasa tresna nu teu weleh geugeut
Hambalan tincakeun ngemu kasono
Na kiceup neuteup paamprok  asih
Aya kahariwang?
Pependeman kaheman ka salira mo aya
Nu bisa ngaludang
Reueus  kacinta kula
Anjeun lir cai ngeclak nu nyiram kahirupan
Hurip jeung hirupna kanyaah ti salira
Tanda saayunan
Ngulibek mageuhan tali kadeudeuh
Ngarangkep sahurunan
Kula salawasna na hate anjeun       


MANGSA PASINI
 
Sareretan na juru soca aya nu neumbag kana dada
Kakuping renghap napas ngayunkeun ka alam baheula
Teu karaos panangan ngusap mastaka
Nyacapkeun katresna, cipanon ngembeng nyebor kaasih

KAHEMAN
 
Runtuyan kembang anggrek warna bungur
Nganteur kasmaran ka salira
Oyag katebak angin peuting
Lir lambe imut ngagelenyu
Bentang masieup, mega tingarudat
Paheut maheut layeut na amparan geugeut
                    (ku nimasgaluh, Januari 2010)                                




Rabu, 11 Juli 2012


YANG  TAK  PERNAH



Dalam kantuk tersandung kerikil perjalanan hidup

Mengukir peristiwa nan elok

Seraut wajah menjangkau lorong waktu

Tersembul menggapai rentangan sebuah perasaan

Segelintir dari sisi kemanusiaan

Mewarnai indahnya retasan misteri

Menyibakkan hasrat  untaian butiran mutiara di dasar samudra



Tak pernah hal itu terlintas

Tak pernah hal itu meminta

Tak pernah hal itu bermimpi

Tak pernah hal itu dikhayalkan

Tak pernah hal itu jatuh dalam pikiran

Semua datang tiba-tiba …

Melalui perasaan menjadi lukisan tautan keindahan

Mengiringi jangkauan masa yang panjang

Berbaur harapan yang bias  ke cakrawala



BIAS  PESONA  MIMPI



Pesona patamorgana kadang menyilau indah

Bertaut mata bias warna

Menjelma dalam bayang temaram malam penghias mimpi

Dari silhuet menabur desiran misteri peristiwa

Yang menggerai sebuah etalaseu kehidupan

Silih berganti mengarungi perjalanan

Menuangkan kronologi sebagai narasi auto biografi



Menyelinap di antara celah dalam lorong waktu dan ruang

Menerobos butiran mahligai

Menyapa belas kasih dengan seringai kegandrungan

Sekejap pesona menawan penuh mimpi

Membelai alam bawah sadar

Mengayun langkah bak penari mungil dalam kegemasan

Terbungkus ego dan  ambisi

                          (by nimasgaluh)

KINASIH  PITALOKA


Seja ngalanglang ngarunday na tepang sasih

Nyubadanan sarwa keteg asih meulit ka tatar Galuh

Nyawang kalangenan alam kaputren

Nu pinuh ku liuh asuhan rama sinareng ambu



Ratu sawer rahayu nu disungsi sangkan jadi jatidiri

Pinuh ku kaluhungan soca kadaton

Rumampa ngusapan dada pikeun sumujud kana pituah sepuh

Ulah ngejat tina kinasih usap deudeuh ti rahayat sakabeh

Malah mandar hirup rumujung ka Yang Agung



Nyanghunjar mapay paneuteup

Eunteup neuteup seureuh

Neangan terah pikeun ngajadikeun surti na hirup ngalalana di alam

Ngaca na kuku dua indung suku

Ngingetan ka mana lengkah nu geus disorang

Rumanggah hate nu bungah

Sugan teh rek mawa kanugrahaan

Ibarat gambaran na lukisan jembar mawa karahayuan



Seja andung pangangkir ka salira raja diraja di palih wetan

Ana anjog kana hiji patempatan kawas kembang nu ditekrok

Nyeuitan lir diturih ku hinis, peurih kana jatining diri, gudawang kana rasa nu rongkah

Tepung gelut galungan ngabela ajen diri teu sudi dilicikkan



Na renghap bari emok andeprok

Nu dipalar ngaleungitkeun kapait

Kajadian di Majapait sangkan ulah kaalaman

Ku sing saha bae miharep balarea meunang kabagjaan

                                                        (ku nimasgaluh, dina NYIAR LUMAR Astana Gede
                                                          Kawali Galuh, 7 Juli 2012)
                                                        

Jumat, 29 Juni 2012


TERBIASKAN



Ternyata di balik kerikil menyimpan sejuta misteri
Yang tak pernah meminta dituangkan ke dalam kelindan waktu
Dan separuh dari keambiguan mengukir warna perjalanan
Yang menancapkan kaki-kaki telanjang
Ditelan gegap gempita keserakahan



Harmoni kehidupan membangun jiwa dan rasa yang saling bertaut
Menorehkan untaian peristiwa dan kejadian
Menerpa perjalanan hidup yang terus bergerak
Mengikuti hukum alam yang telah digariskan oleh Sang Pencipta



Sepenggal waktu menyisakan cerita
Menggagas terkilir indahnya rona pelangi
Seperti menidurkan anak kecil yang rewel diserang kantuk berat
Jauh di dalam samudra tersimpan mutiara
Berproses karena perubahan



Andai jalan itu datar dan lurus
Tak mungkin berliku menaik atau menurun
Andai jurang itu adalah pedataran yang landai
Barangkali penuh dengan gelak dan tawa
Andai samudra itu tanpa palung dan lubuk
Tak ada sisi kegelapan
Memerah darah dalam pendadahan
Merangkum noktah menjelma sebongkah ambisi
Tiada yang digjaya selain Nur Al-Izzati Sang Pencipta alam semestaPananya nguwak-ngawik muka carita
carita dangding hariring lawas
nurih ati ngoetan hate
sampeureun nu surti tur wacis nyaho di mangsa
sugan aya beja ngiberan meuraykeun halimun pepedut
pinuh harepan mawa wawanen
tandang dina dangiang wanda anyar

                                                     (Jatinagara, 2012 by nimasgaluh)


Kamis, 28 Juni 2012

RUMPAKA KAHIRUPAN

        
  

      Pajajaran kiwari, Galuh kiwari nyatana nu ajeg kana papagon nu geus natrat dituturusan tina pitutur sepuh yen nangtungkeun kawibawaan nu sajati lain ngan ukur dina reka catur tapi panceg na tatapakan nu jauh tina kacingcirihi, lugayna rundayan dibarengan hate wening jeung pikir nu lantip kalayan didadasaran ku kaiklasan. Tos kantenan dina tekad, ucap, lampah luyu  sareng Al Qur’an diwuwuh Hadits.
      Ari hirupna manusa nya dihirupkeun ku anu ngahirupkeunana.
Ngudag hirup jeung hurip nya eta ngalalakonna urang di marcapada.
Nu digelarkeun kalawan takdir ti Nu Murbeng Alam.
Ayana urang karana aya nu ngersakeunana nu mibanda kasampuluran katresna ka nu diciptakeunana.
      Sampurnaning hirup manusa didadasaran ku kayakinan jeung yakinna anu bener dina yakinna.
      Kalimah Syahadat unina, anu jadi saksi pikeun yakinna manusa ka nu nyiptakeunana sakabehna tur ka Rosul-Na.
      Muru hambalan tingkatan makom nu disorang kalawan daria jeung kayakinan anu yakin ayana.

      Tangtu haremeng arinyana, nyukcruk galur sepuh ,neangan baraya
Baraya nu pasiuh disapih ku jaman, jaman silem diganti ku jaman nyata
Nyata nu nyaluprih ngaler ngidul ngulon ngetan disaba ka saban madhab
Katimu tina dongeng , tina pantun, tina watu, siga nu keuna kana uga
Uga kula nyanding di mana saestuna ? loba nu beunta tapi lolong
Naha lolong? Teu rek kitu kumaha arandika miangna tanpa lulugu
Lulugu batin dikamanakeun? Kalah seah kalah eprak ahirna rumahuh
Sasakala teu narembongan da rujit ku nu nyaluprih teu keuna kana tutumpakan
Sapta pangandika ngaberung dibarung murukusunu
Loba pantangan nu dirumpak, pamali teu diaji, ngoah tandana adigung adiguna
Prak geura pake na nyarungsum sepuh , neangan baraya
Dipayungan hate wening, ngisat diri nirakatan nagari
Ulah lunca ti temah wadi ari hayang ngajadi katurunan wawangian
Nya Siliwangi tea.
   

  
      Tangtu moal patimu, ngaguar sajarah Sunda ngagunakeun tina jihat spiritual jeung kaelmuan, hese nyurupkeunana, ari marga lantaran titik panginditanana beda, saestuna diperlukeun nu lantip kalawan taliti malah mandar nu kakoreh, sanajan saeutik narembonganana sing nyiki ngaruntuy nu sanyatana, teu didingdingkelir ambeh rundayan surti salangsurupna naon nu geus ditaratas ku karuhun, dina harti bisa dipake cecekelan pikeun menyatkeun ieu nagari anu teu patojaiah reujeung aturan Alloh anu geus diwawadian dina panuntun hirup manusa nyatana Al Qur’an reujeung Haditsna.

       Nyuprih seja nyukcruk galur nu kapungkur mapay raratan carita nu baheula, lamun na lumaku teu make hate nu wening, meunang nu aya pasalia, ka dieunakeun beuki mumbul ngajauhan lir nu dpisirik ku somah jauh ti baraya, nu diagul-agul karadenan ngajadikeun karadian kasered ku hate nu pinuh ku werejit, geura rarujit, rujit da arandika hayangna dieuleuhgoeng, jauh nyumponan kabarayaan, da cenah eta arandika ngarasa menak legok, legok na harti museur na uleukan. Cenahna urang teh ngocor na kokocoran kamenakan, padahal nu saestuna mun bener aya na alur rundayan, diyana teu weleh depe-depe, handap asor ka sasama, da era ku nu nyiptakeun, jauh tina adigung-adiguna, nu pasti arinyana nyusud tur nyaliksik pikeun neangan rundayan, mawa hate nu salawasna rehan kula teu daya teu upaya, geura talingakeun tur guar na geus luyu jeung terahna.
      Jeung sabenerna dina patula-patali nyuprih diri, ngaji hirup jeung huripna tina tengah panca buana, rumanggeum kana sumebarna cahaya nu nyaangan ieu alam marcapada. Ari hirup diwates ku tilu mangsa, mangsa bareto, mangsa ayeuna, jeung mangsa nu bakal datang.
      Heee urang Pasundan hayu urang udag kahirupan bari mawa pedang kaiklasan , nyiku kana ngaco, ngaca, jeung ngaci. Bral geura tarandang menerkeun bebeneran, di mana geus ngalenyepan tina basa ngaci sangkan hirup ngaji kana diri, eta pisan nu dipikahayang rundayan kabeh. Sapasundan nangtung mawa bebeneran hirup na saujratna, ngalem lamun memang alemeun, menerkeun lamun aya benerkeuneunana, tong diembohan ngalem hayang dibales ku pamerena, menerkeun ngece kana pagaweanana, pan ajen pinajen urang Sunda teh “SILIH   ASAH, SILIH
ASIH, SILIH ASUH”.

      Upama nitenan,  riweuh jeung pusing, ulah gedag kaanginan anggur geura dituyun hate aranjeun kabeh, tur kudu tumarima, hakekatna ka Alloh, kana tali ari-ari bali geusan ngajadi. Lempengkeun paniatan kalayan urang meredih ka Alloh Nu Murbeng Alam, depe-depe ngadagoan nur alannnuri sawer rahayu. sangkan panggih jeung bujal kawawangian, dangiang  muncul ti tatar jeung tutur kidung karahayuan.
       Mangka geuwat arucapkeun jangji na diri sewang-sewangan pikeun nangtung golah cai, ngolah nagari, inditna tina jero hate, ulah moro hayang tapi kudu muru kakuduan, tah eta pisan dasarna Ki Sunda.
       Loba catur nu geus kasuprih patulayah na wujud wanda tulisan, tinggal ku disiar, dilenyepan sarta aranjeun geura bral dipigawean hamo ulah kaleked komo bari jeung ngahuleng jentul, ngalengkahkeun suku katuhu pikeun neruskeun lalampahan sangkan ngahontal gemah ripah loh jinawi ieu nagari. Kade kudu apal jeung wawates budaya nu aya na jero hate, ulah nyangkalak ngagero-gero, siga enya nu nyuprih, padahal kabalinger tur katalimbeng lir jelema teu apal ka pamulangan.                 
      Na reureuh wanci pecat sawed, na lugay karek satengahing perjalanan nu disusud, tah di dinya aranjeun kabeh, geuwat nangtung bari arajeg, ajeg na renghap pinuh ku kaagungan nu mere hirup.                     

       Neuleuman pitutur sepuh boh tina lisan boh tina tulisan, singhoreng karuhun urang Sunda teh  gening sakitu jembar tur luhung, enggoning ngokolakeun nagari jeung rahayatna. Namung atuh  ka marana rundayanana??? Bet kiwari Sunda teh leungiteun dangiang, ilang wibawa komara keur makihikeun ieu nagari, malih aya nu nyebatkeun ngan saukur idealis, upami aya di antara urang nu gaduh emutan “ Iraha urang Sunda janten presiden?”.  Punteeen…sanes bade ngagugulukeun kaseleran, da tos kantenan kiwari mah Indonesia teh NKRI tea. Nu dicatur dina kereteg, Sunda teh hoyong majeng…majeng ku dua ku tilu, bawiraos  henteu awon-awon teuing ieu kahoyong teh …manawi eta ge.
 Ajen sabilulungan sareng gotong royong kiwari mah digentos ku individualis, nu diugung-ugung mung kaperyogianana kanggo ajangna, ieu kasauran para pakar. Saleresna urang Sunda seueur nu ngalartos,  palinter, tur rancage. Tangtos dina widang garapann sewang-sewangan luyu sareng kamampuh nu nyampak. Namung teu ku hanteu karaosna teh  meni liat bade menyat teh, nu aya pagirang-girang tampian, eh…malih tampianana oge ayeuna mah parantos gaduh sewang-sewangan ketang…heheheee. Asa nalangsa puguh ge…budaya Sunda katoler-toler, urang Sunda ngaraos gengsi nyarios ku Basa Sunda, majarkeun teh kuno, kampungan, henteu intelek, jrrd. Di sagedengeun eta, Karawitan Sunda  oge henteu di unggal sakola lebet kana kurikulum anu cenah KTSP tea, padahal ieu lembaga mangrupi hiji-hijina kanggo rumawat  budaya Sunda nu sipatna resmi.  
      Rumawat jeung ngamumule budaya Sunda kaasup ngeunaan  basa Sunda teu kudu nu ngawang-ngawang.
Biasana urang sok nganggap enteng kana hiji hal nu sigana teu sapira, conto upama di kulawarga urang Sunda, sekeseler Sunda, cicing di Sunda, di lembur deuih. Naha atuh basa nu digunakeun dina nyarita sapopoe lain basa Sunda ? Ari nu jadi alesanana teh  ambeh teu ngawagu cenah make basa Indonesia, lain hartina di dieu rek nyapirakeun basa Indonesia paralun teuing …, da eta ge sami peryogi dina frame NASIONALISME.
Dina palebah dieu eta alesan teh teu nyurup lantaran ari lambe manusa mah ELASTIS, hartina bisa ngawasa sababaraha basa , matak dina kahirupan kumbuh manusa di masarakat teu saeutik jalma nu bisa nyarita dina sababaraha basa, enya nu disebut MULTIBAHASAWAN tea.
Ceuk nurutkeun panalungtikan para ahli, malah nu ngagunakeun basa Indung dina nyarita sapopoena, prestasi diajar basa Indonesiana  leuwih onjoy ti batan anu ngagunakeun basa Indonesia sapopoena di kulawargana. Ngandung harti basa Indung, nya pikeun urang Sunda mah basa Sunda tea, teu sing jadi bangbaluh pikeun kamekaran basa Indonesia, malah loba kauntungan pikeun ngajembaran kosa kata dina basa Indonesia, lantaran saeutik gedena dina hal  ieu , basa-basa daerah  nu nyampak di nagara Indonesia mere pangaruh kana tingkat kamekaran basa Indonesia. Sarta ari hirupna hiji basa teh ceuk nurutkeun hasil panalungtikan deui,  nya eta ayana PROSES INTERFERENSI di antara basa-basa anu silih mangaruhan, da teu aya hiji basa anu bener-bener fiur sorangan. Hal ieu didasarkeun kana sifatning manusa anu dina kahirupanana henteu leupas tina intervensi manusa lianna ngaliwatan KOMUNIKASI.
Dina kabengharan kecap-kecap basa Sunda oge, loba kecap-kecap lamun ditalungtik dumasar ETIMOLOGINA, singhoreng seueur anu tina basa deungeun oge basa dulur.
Hal nu kasebut di luhur tangtu balukar tina ayana proses interferensi tea, ngajadikeun hiji basa DINAMIS milu jeung robahna PANEKA JAMAN.
So … ( punten ngaglobal) basa Sunda oge bisa digunakeun pikeun nalungtik KAILMIAHAN, tangtu pikeun urang SUNDA jeung di SUNDA, oge pikeun ngawalakayakeun budaya Sunda dina frame “KEARIFAN LOKAL” nu jadi tatapakan pikeun ngajegkeun IDENTITAS SUNDA boh di tingkat nasional boh di tingkat Internasional. Hartina urang Sunda GO NASIONAL GO INTERNATIONAL.
      Sabage conto, pan ayeuna “KANG  GODI SUWARNA” tina sajak anu ngagunakeun basa Sunda, tiasa tah ngapung ngawang-ngawang ka AUSTRALIA kanggo mintonkeun kaparigelanana dina hal kasajakSundaanana.  He…he…he… cag !!!

            Horeng panyawang teh bet nyalahan, nyalahan ku dua ku tilu, naha bet kapirengpeunan, nu aya bati hanjelu lain meumeueusan, kuciwa lain caritakeuneun. Ah munasabah atuh ari hirup jalma mah lir ibarat gilinding roda, sakapeung di luhur sakapeung di handap, anu puguh mah kudu waleh ulah dapon, di dinya meureun aya pangajen pikeun nangtungkeun sikep. Sikep nu mawa katengtreman, boh keur sadirieun boh keur nu lian.
      Nyaan ari elmu mah datangna geus tangtu ngaliwatan jeung papada kaula deui, jeung ari elmu mah moal enya beurat mamawa. Elmu nu dicangking geus tangtu bakal ngajembaran pangaweruh, tina elmu nu dicangking tangtu bakal ngawujudkeun kaparigelan jeung karancagean nu luyu jeung kamampuhna sewang-sewangan.



BALUWENG
 (ku nimas galuh, 2010)


Asa lieur ngabandungan retorika
/catur para gegeden,
nu dipadungdengkeun ngan saukur egona sewang-sewangan.
Ra’yat leutik nu katalangsara jeung katideresa alatan ku meuweuhna
musibah nu tumiba, tapi teu dipalire, antukna aral nu pagaliwota.
Kudu ka mana atuh ari geus kieu? minangsaraya kasusah jeung
kabingung ?  
Aya bantuan nu  dipiharep bakal menyatkeun, ngocorna seuseut seuat.
Da puguh katalikung ku ugeran nu cenah kudu tartib administrasi, ah…
manusa manusa horeng nu dipikiran jeung dibajoangkeun teh ngan
sawates keur mipindingan kahengjer diri.
Bancang pakewuh durder di mana-mana : caah, banjir, longsor. gempa,
parasea jeung sasama, wates gaul antara awewe jeung lalaki geus teu
didingdingkelir, geus puguh korupsi mah mahabu ti nu gede ka nu leutik
ge teu tinggaleun, naha geus paroho?
Padahal da’wah di unggal madhab tapi teu didarenge atawa memang
teu kadenge?
Rosulullah ngadawuh nu eces natrat dina Al-Qur’an “ Dina mangsa ahir
jaman bakal loba karuksakan nu dilantarankeun kasarakahan manusa”.


SASIEUREUN SABEUNYEUREUN
(ku nimasgaluh)
Salah sahiji conto rengkak paripolah hirup kumbuh dina kahirupan sapopoe nu nyampak di sakuriling bungking kedah aplikatif tina hal naon anu diparentahkeun anu geus natrat dnai Al-QUR’AN tur HADITSNA, nya eta anu rambat kamalena jeung HABLUMINNAAS.
“NGADORESAKEUN” , rada kagugu ku ieu istilah teh ! Naon atuh patalina jeung ungkara anu di luhur ???
Ngadoresakeun, upama ditarik tina konteks ungkara nu sok remen kapireng atawa kabandungan, ieu kecap teh ngandung harti mere karipuh, mere karudet, mere kabalangsak alatan ku hiji pagawean anu teu dijieun ku sorangan. Hartina aya anu nyababkeun ku sababiah tina hiji pagawean anu holna ti nu lian, nu antukna  tina hiji pagawean eta nimbulkeun atawa ngawujudkeun hiji paripolah sejen nu kaasup henteu hade nya eta KUTUK GENDENG, SUUDZON, HUMANDEUAR, NGAGEREMET, jeung sajabana, eta hal kaasup kana  panyakit hate lamun ditarimana tuna kasadrahan.
Sabage illustrasi nu nyampak  dina kahirupan sapopoe, nya eta ngeunaan “MIARA HAYAM”. Miara hayam kaasup salah sahiji conto karancagean atawa kaparigelan, anu lamun bener-bener dina ngokolakeunana bakal mawa kauntungan atawa benefit ceuk basa gaulna mah nya boh keur dirina nya boh keur nu lian.
Miara hayam sangkan teu ngadoresakeun ka batur nu jadi tatangga, tangtu kudu luyu jeung ajen-ajen kahirupan dina ngawangun hirup kumbuh tea. Upama urang dina miara atawa ngukut hayam diabur, tinangtu bakal ngabalukarkeun bangbaluh pikeun nu lian. Hayam bakal marodol di teras batur, lamun kabeneran teras imah tatangga teh teu make benteng paluhur-luhur kawas di pakotaan. Ilaharna pan di pakampungan mah ajen sifat kagotongroyonganana masih diparake, jadi loba keneh terasna anu nalembrak. Lian ti eta lamun ngingu hayam diabur geus pasti bakal ngaranjah pepelakan batur di buruan imahna, atuh bisa jadi gehger tah.
Jadi lamun dilenyepan tur diteuleuman, horeng ari ngaji teh lain ngan saukur nu kawates dina fadhilah atawa anu neoritis ngapung ngawang-ngawang, tapi jero-jerona Al-Qur’an reujeung Hadits teh pikeun nungtun manusa dina enggoning kahirupanana anu salawasna ngawangun katengtreman batin boh keur dirina boh keur nu lian.  … Cag !!! 

 

Dina nyuprih teu karana aya nu diseja nu saukur panghias dunya
Nyamunikeun nu patojaiah komo bari didadasaran kacingcirihi diri
Mesek wewesen ngalap kaberekahan ayana dina sumerah diri nu teu daya teu upaya
Ngudag kasajatian sajatining nyukang lakuning jejem jauh tina kariaan nu dieuleuhkeun
Nyiloka dina ngajen jeung papada kaula bari mamandapan ka Yang Agung
Teu perlu nembongkeun kapunjulan nyieuhkeun kapinteran nu kodek
Lantip rintih bari nitenan yen nu dilakonan asup kana salangsurup pangrasa sakabehna
Pon kitu deui nu dipalar enggoning umajak teu dibarengan ngajadmen nu lain sakuduna.




Mipir-mipir kaheman neang asih nu kapegung dina jaman tarate digenggong, sulaya tina tuturus nu geus diembarkeun, yen isuk baring supagi bakal katohyan saha nu nyiliwuri dina ngareka-perdaya. Reka perdaya nu patojaiah reujeung kaagungan Illahiah nu sampurna.
Pek arandika nyungsi nu bener jeung benerna da Alloh mah moal pahili dina ngajen mahluk ciptaanana, naha arandika teu nyaho aya pangbalikan nu moal bisa dinaha-naha?
Ulah ngadurenyomkeun ieu aing…ieu aing
Di payuneun Gusti Nu Maha Suci nu geus digelarkeun dina  Al QuranNa, teu aya hiji mahluk nu alus iwal ti anu boga kayakinan nu yakin jeung yakinna ka Nu Maha tunggal nu geus nyiptakeun alam sakabehna.
Geura tuh tenjo tingarigelna manusa dina kamonesan dunya anu teu lana, ulah hayang diugung-ugung nu ngan saukur kumagungan. Nu agung mah anging Nu Maha Agung nu linuhung dina nyampurnakeun hirupna manusa.
Ulah rek kabobodo tenjo geura eusian hate ku wening galih nu bakal muka hijab arandika sakabehna sangkan nyaho kana diri nu sajati, sajati dina nyubadanan raga jeung jiwana nu moal pareum dina nyuprih jatining diri ka Alloh nu Maha Wisesa.
                                                                    ( ku nimasgaluh, 20120)